Fakta-Fakta “UNIK” Pilkada Indonesia

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah kata yang membosankan dan sekaligus memuakkan di telinga beberapa tahun belakangan ini. Pilkada sudah terasosiasi dengan kerusuhan, kekerasan, demonstrasi dan another vandalis activities. Demokrasi  yang paling heboh mungkin hanya terjadi di Indonesia. Dengan 32 Provinsi (minus DIY) dan sekitar 490 Kabupaten/Kota berarti ada 522 Pilkada yang dilaksanakan di Negara ini. Padahal jumlah hari kalender Cuma 365, berarti kalau tiap hari dilakukan Pilkada maka butuh waktu satu setengah tahun untuk coblos-mencoblos atau contreng mencontreng, what an inefficient and unproductive life.  Di Negara mana lagi bisa ditemukan yang seperti ini? Di Amerika Serikat? Eropa Barat? Saya piker kok nggak ada yang seperti ini. Belum lagi kalau kita hitung duit yang hilang. Ambil nilai rata-rata tiap pilkada 15 Miliar, maka akan didapat duit 7.8 Trilliun. Fantastik. Nilai 15 M itu saja diambil nilai yang minimal, nilai riil jauh diatas itu. That’s the price of demoooccrazyy?even in the god father of democrazy isn’t as crazy as this.

Saya nggak akan berkomentar panjang tentang ini, saya mau cerita fakta-fakta “unik” seputar pilkada saja.

1. Spanduk/Baliho

Sudah nggak dipungkiri, rakyat Indonesia ini rata-rata narsis, dari abg-abg labil hingga politisi. Sehingga nggak heran menjelang pilkada banyak sekali dipasang spanduk/baliho/poster/flyer yang kadang norak dan sangat mengganggu pemandangan. Para kandidat seakan-akan berlomba meraih simpati masyarakat dengan berlomba ukuran spanduk. Bahkan kadang ada yang memasang fotonya berdampingan dengan politisi berpengaruh dari Jakarta biar dikira posisinya kuat didukung orang kuat. Mungkin bisa dijadikan judul skripsi nih, Hubungan antara jumlah dan ukuran spanduk dengan peluang calon untuk memenangkan pilkada. Siapa tau didapat hasil, the biggest picture you put, the biggest opportunity you gain.

2.  Janji manis

Kandidat gubernur, bupati, walikota selalu menawarkan janji manis agar rakyat berbondong-bondong memilihnya. Yang paling terbaru dan rame tentu tentang Pilkada DKI. Janji-janji manis terucap perlu di cerna akal sehat. Ada yang menawarkan 3 tahun bebas banjir dan macet. Ada yang menawarkan pendidikan gratis, berobat gratis, bahkan masuk pantai gratis. Bagi rakyat grassroot, semua yang serba gratis tentu sangat menarik, apalagi menyangkut pendidikan dan kesehatan di tengah himpitan ekonomi sekarang. Yang ndagel ada yang menjanjikan fasilitas wifi di Kopaja AC. Itu bagaimana realisasinya? Wong angkutan umum yang layak saja belum bisa direalisasikan. Kelas menengah yang sudah agak berpendidikan sih biasanya sudah bisa berpikir mana yang kira-kira masih masuk akal atau cuma ngayawara. Namun sayangnya kelas ini nggak bisa dan jarang mau memberi informasi yang masuk akal ke kalangan grassroot. Lalu muncullah hestek #kelasmenengahngehe LoL

 

3. Kegiatan Sosial

Cara cari muka paling mudah adalah turun ke grass root. Ada yang bikin pengobatan gratis, pasar murah, bagi-bagi semabako,  pokoknya kegiatan social yang menyenangkan dan membius (kayak dokter aja?? ) Kalangan akar rumput sudah pasti terbuai dan berbondong-bondong mendatangi  kegiatan-kegiatan seperti ini. Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, siapa sih yang gak mau barang gratis? Yang jadi pertanyaan. Apa setelah terpilih kegiatan-kegiatan seperti ini akan terus dilakukan? Saya piker kok nggak. Ya gimana lagi, namanya cari simpati bung.

 

4. Politik Uang/Serangan Fajar dan sejenisnya

Politik uang ini bisa dilakukan pada masa kampanye, ataupun pada waktu sebelum hari H. Pada masa kampanye modusnya ya disisipkan di kegiatan social tadi, setelah di cek kesehatan, dikasih obat lantas dikasih sangu. Modus yang lain ya sebelum hari H biasa disebut serangan fajar karena datangnya di pagi hari. Orang yang sudah berpendirian teguh biasanya nggak tergoyahkan dengan serangan fajar ini. Orang-orang seperti ini biasanya cuma ambil uangnya saja. Namun tahukah anda, di desa-desa di kampung-kampung dimana rasa malu masih kental, kalau sudah terima uang biasanya ya calon-calon yang memberi uang yang dicoblos.

Ya itulah sedikit fakta “unik” tentang pilkada di Indonesia, belum termasuk demonstrasi, kerusuhan, sidang hingga ke Mahkamah Konstitusi, kandidat gagal hingga gila, calon yang menghabiskan harta bendanya sampai miskin, dan ada yang mau nambahin?

 

Source :

http://www.depdagri.go.id/pages/data-wilayah

http://www.depdagri.go.id/basis-data/2010/01/28/daftar-provinsi

http://www.antaranews.com/berita/1268604281/anggaran-pilkada-matra-rp12-miliar

http://web.inilah.com/read/detail/1873049/politik-uang-menjelang-pilkada

http://www.mediasmscenter.com/index.php?option=com_content&view=article&id=121:mayoritas-pilkada-terindikasi-politik-uang-&catid=1:info-pilkada&Itemid=66

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://a0.twimg.com/profile_images/2339575072/un1q457oggtxsx6a8nrx.gif&imgrefurl=http://twitter.com/3TahunBisa&usg=__iVzxvsBxJC3p5SxQfYJxX4SB6jo=&h=300&w=300&sz=93&hl=id&start=3&zoom=1&tbnid=ciYG9gD30gWnIM:&tbnh=116&tbnw=116&ei=OTH1T4yxMY_wrQfl2KnJBg&prev=/search%3Fq%3D3%2Btahun%2Bbisa%26um%3D1%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1

3 responses to “Fakta-Fakta “UNIK” Pilkada Indonesia

  1. Haha, saking klisenya jadi males ya pilkada-pilkadaan? nggak tau lagi gimana membedakan fakta dan mitos, karena semua yang keluar dari mulut calkada ini semuanya terdengar bullshit. Hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s