The Flowers of War

Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. (Pramoedya Ananta Toer).

Flowers of War ( Jin líng shí san chai) mengisahkan bagaimana para wanita tuna susila di jaman perang pun masih mempunyai rasa kemanusiaan, jiwa kepahlawanan dan pengorbanan. Film ini mengambil latar tahun 1937 di Nanking (Nanjing) dimana tentara Jepang membumihanguskan seluruh kota, membantai penduduk dan memperkosa wanita-wanita. Kejadian ini setiap tahun diperingati warga RRC sebagai Tragedi Nanking.

Film yang menghabiskan dana hingga 94 juta dolar AS ini merupakan adaptasi dari novel “13 Flowers of Nanjing” karya Geling Yan. Sang penulis novel mendapat inspirasi cerita dari kejadian nyata mengenai beberapa perempuan penghibur di Nanjing, yang bersedia menggantikan sejumlah mahasiswi yang diminta untuk “menemani” tentara Jepang.

Cerita berawal ketika seorang pria asal Amerika Serikat bernama John Miller (Christian Bale) datang ke Nanjing untuk memakamkan seorang pastor Katolik di suatu gereja. Awalnya ia datang hanya untuk mendandani mayat , namun ia malah menemukan 14 siswi biara yang bersembunyi dalam gereja bersama George (Huang Tianyuan), seorang remaja yang menjadi asisten pendeta dan diminta menjaga parasiswi.

Para siswi remaja itu ketakutan bila suatu saat tentara Jepang menyerbu masuk ke gereja dan akan memperkosa mereka. Miller  yang pada awalnya tidak peduli apa yang terjadi akhirnya terketuk rasa kemanusiaannya kemudian menyamar sebagai pastor di hadapan para siswi.  Namun ia jadi bingung karena 15 perempuan penghibur dari rumah bordil  Nanjing datang ke gereja untuk mencari perlindungan, bahkan meminta Miller mengantar mereka keluar dari Nanjing dengan imbalan yang sulit ditolak. Apa yang terjadi selanjutnya??

Sutradara Zhang Yimou piawai memberikan pengalaman menonton yang menyedihkan, mencekam, sekaligus menyayat hati lewat berbagai adegan yang ditampilkan. Para murid perempuan awalnya sangat membenci para pelacur yang menumpang di rumah mereka. Namun, perang membuat mereka melewati berbagai pengalaman buruk bersama. Rasa sepenanggungan sebagai perempuan membuat para perempuan berbeda jalan ini kemudian bisa berteman.

Film ini digarap sejak Desember 2010. Syuting banyak dilakukan di Provinsi Nanking, Cina. Dialog di film ini, 40% menggunakan bahasa Mandarin dan sisanya berbahasa Inggris.

Flowers of War dirilis di Cina pada 16 Desember 2011, beberapa hari setelah peringatan ke-74 Pembantaian Nanking yang juga selalu diperingati masyarakat Tirai Bambu untuk mengenang kejamnya perang pada masa itu. Faktor sejarah yang sangat kental sukses membawa film ini mendapat predikat box office pada minggu pertama penayangannya di Cina. Di Indonesia mulai di putar di bioskop mulai 27 Juni 2012.

Source :

http://www.21cineplex.com/the-flowers-of-war-movie,2867.htm

http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/12/06/20/m5uw4h-flowers-of-war-kisah-penata-rias-mayat-di-tengah-gejolak-ii

http://www.imdb.com/title/tt1410063/

http://www.antaranews.com/berita/318645/keindahan-dan-pengorbanan-dalam-the-flowers-of-war

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s