kata teman saya

Ini cerita teman saya, seorang pelaksana bangunan, lulusan STM. Sudah berpengalaman untuk menangani proyek2 kontraktor paling tidak sampai gred 4. Dia bercerita mengenai bagaimana tidak idealnya suatu proyek itu dikerjakan. Mulai dari awal pelelangan sampai pelaksanannya di lapangan. Kali ini yang saya tulis mengenai pelaksanaan di lapangan. Terutama tentang hubungan antara kontraktor dengan pengawas.

Teman saya bercerita, pernah dia menangani pekerjaan irigasi. Katanya kalau jadi pelaksana proyek irigasi itu sangu (uang saku)nya harus banyak. Kenapa??? YA itu, demi menjaga hubungan baik dengan pengawas. Paling tidak pengawas itu datangnya 1 minggu 3 kali. Dan datangnya pasti pas jam makan siang. Bisa dibayangkan yang terjadi kan??? Biasanya mereka (para pengawas) itu berani meminta jenis makan siang sesuka mereka. Coba dipikir, kalau mereka meminta yang kelas tinggi, pelaksananya pasti cuma bisa misuh2 dalam hati. Pernah suatu ketika, teman saya itu sangunya mepet, walhasil, dia pulang dengan dompet yang kosong😆 . Tapi teman saya itu cerdas juga, kadang dia mengibuli para pengawas itu. Jam 11 teman saya itu meninggalkan lokasi, dan baru kembali ke proyek jam 2, hahahhaha….pengawasnya kecele. Tapi tentu saja itu tidak bisa dilakukan terus menerus. Nanti dikira ndak niat jadi pelaksana.

Yang mengherankan lagi tentang laporan pekerjaan. Saya ndak tau ini menguntungkan pelaksana atau malah merugikan. Jadi ceritanya di suatu proyek pengawasnya baik hati. Dia bersedia membuatkan laporan pekerjaan (mingguan, bulanan, akhir) , tapi dia menentukan suatu harga tertentu untuk laporan itu. Terus saya nanya ke teman saya, kalau kita bikin laporan sendiri gimana??? Ya ndak papa, tapi laporan itu pasti tidak terima alias tidak di acc. Yah, jadi mau tidak mau ya harus mbayar.

Mendengar cerita teman saya itu saya jadi berpikir, dunia ternyata luas ya😆

Catatan :

Mungkin tidak semua proyek dan pengawas seperti itu (tidak bisa generalisasi), tapi bagi anda praktisi lapangan tentu sudah lebih tau keadaannya.

Bagi anda praktisi lapangan yang sudah berpengalaman, mungkin tulisan saya ini basi menurut anda

Bagi anda yang mau menerjuni dunia itu, itu hanya sedikit gambaran sadja

3 responses to “kata teman saya

  1. nah itu dia, uang yang gak barokah nantinya hasilnya juga gak barokah, makanya cerita ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita, apa ya mo sperti itu hidup kita, makan dari uang yang gak barokah? iya pengin iya? mikir donk…. coba aja baca renungan2 saya di web saya, Insya Alloh ada manfaatnya… fokus pada keberlimpahan, rasa syukur dan iman yang mendalam, amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s