Jogja Istimewa, Istimewa Jogja

Jogja Istimewa, Istimewa Jogja

Kalau ditanya apa istimewanya Jogja, pasti orang-orang Jogja lalu menyodorkan fakta2 sejarah tentang Jogja. Tentang kerajaan Mataram, tentang kebudayaannya, tentang peran pada waktu merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tentang peran HB IX untuk Indonesia, dan pasti masih banyak lagi fakta2 yang akan diungkapkan. Fakta2 itu memang terjadi dan benar adanya, dan tentu tidak bisa dipungkiri. Namun apakah fakta2 itu yang menunjukkan ke istimewaan YOGYAKARTA?

Bukan itu saja menurut saya. Keistimewaan tidak hanya didapat dari warisan sejarah. Bukan itu…Keistimewaan menurut saya adalah suatu paradigma, sikap, keadaan dan realitas yang ada di Jogja tercinta ini, sehingga menjadikan Jogja ber “beda” dari daerah lain. Keistimewaan tidak hanya menyangkut satu aspek saja, misalnya tentang pengisi jabatan Gubernur, namun lebih dari itu, keistimewaan haruslah mencakup segala sendi kehidupan masyarakat Jogja.

Apa saja sebenarnya yang bisa menjadikan Jogja ini istimewa? Pertama tentang pendidikan. Dulu Jogja pernah dijuluki kota pendidikan, kota pelajar. Kenapa? Karena banyak sekali perguruan tinggi di Jogja ini. Banyak pula mahasiswa2 dari luar daerah bahkan luar negri yang menuntut ilmu disini. Namun apakah sekarang julukan itu masih berlaku, ataukah sudah berakhir? Mari kita lihat realitasnya. Memang sih, jumlah Perguruan Tinggi masih menjamur, namun lihat antusiasme calon mahasiswa dari luar daerah. Gampangnya, lihat saja kos-kosan di kantong2 perguruan tinggi (tidak termasuk UGM dengan wilayah sekitarnya 😆 ). Dari tahun ke tahun nampak sekali penurunan penghuni kos2an. Saya mengamati di sekitar tempat tinggal saya. Lantas, kenapa kok trendnya menurun? Banyak faktor menurut saya. Mulai dari biaya kuliah yang tambah mahal, dan mulai tidak berbedanya Jogja dengan kota-kota besar lain (ini yang paling berbahaya). Apa yang menjadikan bahaya??? KEHIDUPAN MALAM. Fasilitas ini di Jogja semakin menjamur, kalau dulu mungkin hanya 1-2, sekarang sudah lebih dari 5. Itu yang kelas berat, belum yang kelas sedang dan ringan. Hal ini tentu membuat orang tua berpikir lebih banyak untuk melepas anaknya sekolah atau kuliah di Jogja. Pasti pikirannya cuma khawatir anaknya terjerumus ke hal negatif.

Yang kedua adalah kebudayaan. Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang Kraton dan Ngarso Dalem walaupun 2 hal itu masuk juga ke dalam ranah budaya. Lantas Masihkah orang Jogja mengenal budayanya? Jelas masih bagi beliau2 yang sudah sepuh. Mereka ini biasanya sangat concern dengan budaya. Namun apakah generasi penerus (pemuda) masih peduli? Kalo ditanya, pernahkan anda nonton ketoprak atau sekedar mendengarkan wayang di Radio tiap malam? Tahukah anda siapa Hadi Sugito (almarhum) ? Siapakah Pandawa dan Kurawa itu ? Masih ingatkah anda tentang aksara Jawa? Bisakah anda bahasa kromo alus dan kromo inggil?Bagaimana sopan santun kepada orang tua?Agak susah mungkin menjawabnya. Namun jika ditanya, film apa di 21 hari ini? malem ini hangout kemana?party dimana malem ini? Etc, etc ……. Jawaban pasti akan dengan lancar keluar. So….Mari dipikirkan bersama. Akan dimana posisi kita di Jogja tercinta ini….

Yang ketiga adalah kenyamanan dan kemanan. Jogja terkenal dengan kenyamanan dan keamananya, sehingga orang2 yang akan pensiun memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya di Jogja. Kenapa bisa nyaman dan aman, karena warganya tahu sopan santun dan unggah ungguh, lingkungan bersih, lalu lintas lancar, keamanan terjamin, jarang terjadi konflik horisontal. Pertanyaan lagi, apakah kondisi sekarang masih begitu??? Rasanya pengen mengatakan iya, masih nyaman dan aman. Tapi beberapa kejadian akhir-akhir ini mengatakan sebaliknya. Mulai dari aksi anarkisme warga dalam berunjuk rasa, lingkungan yang kumuh di sudut-sudut kota, kemacetan lalu lintas, kasus kriminal , infiltrasi dan agitasi para fundamentalis beragama, bahkan (tersangka) teroris banyak yang tertangkap di Jogja.

Tiga hal yang menurut saya jauh lebih penting dari hanya sekedar polemik mengenai Pengisi jabatan Gubernur. Wong Ngarso Dalem saja menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah pusat, kok malah rakyat yang repot. PEACE ………………..

4 responses to “Jogja Istimewa, Istimewa Jogja

  1. setuju.. daripada “sekedar” keistimewaan, masih banyak yang harus dibenahi. dalam hal ini tentang kehidupan dan unggah ungguh betul-betul membuat resah..

  2. yup, inilah sudut pandang penulis watonmuni. sedikit banyak memang ada benarnya masalah-masalah yg ditulis si penulis. saya pernah merasakan hidup di jogja semasa kuliah, dan apa yang saya rasakan memang tidak jauh dari apa yang digambarkan penulis.
    love jogja, mari selamatkan budaya dan kepribadian asli bangsa kita.🙂

  3. Yak, saya setuju.Sebagai orang yang lahir sekolah sampai kuliah di jogja, memang liat keadaan jogja sekarang sangat prihatin. Mari kita lihat saja prestasi gubernur sekarang, apa kebijakannya mendukung atau malah menghancurkan ciri khas jogja? ayo jujur aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s