Saran untuk Angkutan Umum di Jogja

Saya mendapat komentar dari mas Didik, yang cukup panjang dan cukup menarik pada tulisan ini. Karena itu saya memostingkan komentar itu disini sebagai sebuah tulisan. Smoga saja menjadi tambahan wawasan, karena beliau membandingkan sistem transportasi di eropa dengan di Jogja. Berikut tulisan mas Didik yang tanpa saya edit sedikitpun ( cuma saya italickan)

Salam,
saya didik, kebetulan bekerja di Budapest, Hungary.

Mau kasih tambahan  informasi saja tentang transportasi di eropa.
Saya kebetulan pantau terus perkembangan transjogja, karena saya anggap itu positif. Saya juga sempat tuhpenasaran soal jalur sepeda. Bangga punya jalur itu karena kedepan emang penting. Disini jalur sepeda punya payung hukum, dan banyak penggunanya. Tapi sepertinya jalur sepeda di jogja terakhir saya pulang malah jadi tempat parkir spd mtr, mobil dan taksi.

Soal busway, saya sangat setuju. Walaupun banyak yang bilang kurang efektif karena gak punya jalur sendiri.– Di Budapest jalur busway memang punya jalur sendiri, tapi tidak di pasang pembatas. Karena pengendara mobil disini sadar kalau lajur bus ya untuk bus. Lajur busway disini juga bercampur dengan lajur pribadi, tapi toh juga masih nyaman karena gak kebut-kebutan. —. Jadi jalur yang harus bercampur tidak maslah. yang penting tuh tertib.

Sebenarnya satu yang bisa diperbaiki dari mode transportasi di jogja yang sudah ada. Busway sangat bagus sekali cuma satu, halte terlalu jauh satu dengan yang lain. sehingga orang agak enggan pakai busway. Karena saya juga tahu, kalau orang indonesia agak enggan berjalan jauh. Terus halter juga malah terlalu menghabiskan dana. Halter disini malah cenderung jauh lebih simlpe tapi jauh lebih efektif.

Menurut saya bikin perda baru kalau bus kota dan transporrtasi lain tidak boleh menurunkan penumpang di sembarang tempat. Pemda harus buat pemberhentian bus– disini pemberhentian bus tidak harus halte yang beratap. sebagian malah cuma tiang bertanda busway dan jadwal.— Nah di jogja yang pedestriannya sempit ini bagus. Jadi sesudah bikin perda baru, buat tiang yang bertuliskan halte bus kota. Dilengkapi nomer jalur yang boleh berhenti, serta trayeknya. Karena buskota belum berjadwal gak usah di kasih jadwal dulu yang penting informasi trayek dan jalur jelas. Kedepannya untul jadwal harus dibentuk. Nah dari perda harus tertulis kalau semua angkutan kota harus menaikan dan menurunkan penumang pada tptnya. Kalau tidak kena sanksi tinggi. 1 halte maksimal untuk 2-3 jalus bus kota.

Selain itu, pintu bus harus ditutup karena menyangkut keamanan.  Nah kalau begini transportasi tidak semrawut. sebenarnya yang bikin macet jalan di jogja salah satunya karena bus berhenti di sembarang tempat dan suka menunggu terlalu lama.

Saya rasa solusi itu akan sangat bagus, untuk jangka pendek, dan tidak menghabiskan banyak dana. CUma harus mengadakan temu wijara dengan pemilik angkutan kota di jogja. Pemda harus tegas, karena ini menyangkut citra negara. Mentalitas negara bisa dilihat dari moda transportasinya. Dan  harus disiplin.

Tengong transportasi di singapur dan malaysia. Jalur bus mereka biasa dan  gak semuluk transjakarta dan transjogja. Satu yang penting dari mereka adalah bus berhenti pada tempatnya, Jalur bus, trayek dan jadwal di pasang di setiap halte. Halter tidak terlalu jauh satu dengan yang lain. Bus beroperasi sampai malam.  Trayek juga mencakup seluruh kota.

Nah sebenarya di jogja mau kemana juga ada angkotkan?… cuma yang disiplin seperti transjogja yang berhenti di halte saja tidak ada. Makanya kalau sistem yang saya sebutkan diatas diterapkan pasti trasnportasi lebih tertip dan teratur. Dan tak usah keluar dana banyak.

Bagaimana? Ada tanggapan?😉

7 responses to “Saran untuk Angkutan Umum di Jogja

  1. Waduh bos …

    IDEALNYA memang begitu, di mana pun di Indonesia, bukan cuma di Jogja. Halte fungsinya memang untuk itu, tapi itu tadi. Budaya kita yang salah satunya males jalan, sehingga jalan raya penuh sesak dengan kendaraan bermotor, dan hampir selalu memarkir kendaraannya di depan tujuan mereka di pinggir jalan, misal di depan toko dll, bukan di tempat parkir yang disediakan. Menambah runyam masalah.

    Penumpang angkutan umum, yang tidak mau mencegat angkutan di halte, dan jika supir angkutan tidak berhenti, ya akan tidak bisa ngejar setoran.

    Saya pernah liat halte di semarang, yang tersedia jadwal pemberangkatan bus kota damri. lumayan karena bus kota damri semarang memang menaikkan dan menurunkan penumpang di situ, meski kadang tetap saja menaik turunkan penumpang di sembarang tempat, tapi itu lebih bagus daripada angkutan lainnya yang serampangan.

    Dari penegak hukum, masalahnya lain lagi, mereka berhadapan dengan DEMONSTRASI yang dilakukan para supir bus yang marah akibat penertiban jalur. Para polisi itu tentunya memilih diam, dan bertindak jika dan hanya jika terjadi masalah di jalan.

    Masalah transportasi di Indonesia itu runyam, perlu tindakan pasti, jelas, disiplin dan cenderung represif untuk membuat manusia itu disiplin. Pembatasan jalur seperti transjakarta saja jadi masalah karena akhirnya malah dipakai lewat bus dan kendaraan lainnya.

    Masalah utamanya, siapa yang mau memulai? Siapa yang sanggup memulai?

    Sedangkan saya yang mencoba untuk disiplin di jalan, lebih sering dianggap orang aneh … hehehe

  2. Sebelumnya makasih dah dijadikan topik, dan tanggapannya.

    Saya sepenuhnya mengiyakan tanggapannya mas preaxz, Itulah, butuhnya payung hukum dan aparat yang tegas. Tapi ada yang bisa diperbaiki agar jogja bisa lebih tertip, rapi dan aman.

    1. Bus berhenti di tempat bertanda busstop, setiap busstop mencantumkan jalur dan trayek. Seperti yang saya usulkan sebelumnya. Idealnya 1 busstop untuk 1 bus. Untuk jalan yang dilewati lebih dari satu jalur bus, bisa di terapkan multi bus stop. Bus stop satu dengan yang lain jangan terlalu jauh. Umpamanya jalan gejayan bisa di buat 3 – 4 bus stop untuk satu arah trayek.

    2. Parkir di pinggir jalan diperolehkan di beberapa ruas jalan tapi cuma sepanjang beberapa meter di kanan dan kiri jalan. Jangan di sepanjang jalan bisa parkir seperti kebanyakan jalan di jogja. Patok tarif tinggi untuk parkir di pinggir jalan. AKhirnya nanti akan timbul business baru bagi rakyat untuk membuka tempat parkir umum di lahan yang mereka punya, dengan memperkerjakan petugas parkir yang ada sekarang. Atau Pemda yang mengelola parkir ini. Dan petugas parkir jadi karyawan tetap.

    3. Pedagang di sepanjang trotoar di tertibkan. Tapi jangan asal usir saja, tapi bisa dibatasi, dan disarankan agar jangan berdagang di jalan utama, tapi agak masuk kedalam atau dibuatkan tempat khusus pedagang-pedagang ini. Yang intinya trotoar atau pedetrian itu adalah tempat yang disediakan untuk pejalan kaki. Mungkin orang di jogja malas berjalan karena fasilitas ini sudah berubah fungsinya. Nah kalau trotoar bersih dan lapang orang bisa berjalan aman ke bus stop.

    Yang penting, ada perda dan aparat harus tegas. Jogja masih bisa diperbaiki lebih cepat dari kota besar lainnya. Kalau rakyat protes, ya tanggapi tapi dengan kepala dingin. Sosialisasikan perda dengan jelas dan tepat sasaran. Rakyat harus patuh, pertama memang susah tapi lambat laun rakyat akan merasakan perbedaannya.

    Transjogja sangat bagus…. sangat saya dukung. Tapi selayaknya sistem ini bisa diadopsi oleh angkutan transportasi yang sudah ada. Pasti nanti semua orang merasa nyaman berkendaraan umum. Untuk pendatang baru dan turis juga sangat terbantu. Saya pertama kali di eropa langsung bisa menggunakan transportasi umum karena tempat pemberhentian jelas, jalur trayek jelas. Sekarang orang baru dan turis di jogja mau pakai angkutan umum pasti susah cari informasi. Walaupun mereka lihat bus laliu lalang di jalan tapi dimana bisa naik, dan jalur trayeknya kemana.

    Ini sebenarnya masalah agak simple, cuma butuh reformasi kecil tapi tegas. Saya tidak habis fikir apa orang yang kerja di dishub tidak pernah terpikirkan? Padahal pasti orang yang bekerja di pemerintahan pernah ke luar negri. Bahkan Sultan, setahu saya sering ke Amsterdam. Mereka pasti bisa mengadaptasikan sistem transportasinya. Kalau jogja nyaman pasti banyak turis yang datang, efektifitas pekerja lebih maksimal. Income dari pariwisata dan Investasi naik. Akhirnya rakyat juga yang menikmati.

    Kalau ada yang mau, saya bisa beri contoh simple disini dengan foto.

  3. Melihat kultur masyarakat Jogja, saya optimis kalo Bus Transjogja bisa sukses. (refleksi dari angkutan komuter Prameks yang sangat bagus dibandingkan angkutan komuter di kota lain di Indonesia).
    Memang dari berita2 yang ada di surat kabar, masih ada kekurangan di sana-sini, tapi mudah2an segera diperbaiki sambil jalan.

  4. Telat nih nggak ngikuti perkembangan bus Patas Jogja dari Blog ini. Padahal blog ini salah satu sumber saya untuk mengetahui lebih banyak perkembangan bis patas Jogja.
    Sepertinya poin penting yang di dapat dari bis Patas ini adalah mengajak kembali warga untuk berdisiplin, antara lain tidak naik turun angkutan sembarangan.
    Jogja memang panas, tapi rasanya bukan alasan untuk malas jalan kaki dari dan ke halte.

  5. Info yang menarik Bro, Semakin lengkap infonya maka akan semakin baik pula situs ini. Salam kenal dari 212. Ditunggu kunjungan balasannya ke situsku. Terimakasih. Melanjutkan Blogwalking dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s