Terimakasih GIGI untuk JOGJA

Akhirnya jadi juga saya nonton GIGI tadi malam. Sehabis maghrib berangkat dari rumah, harus menjemput teman saya ( ndak berani nonton sendiri 😆 ). Rencananya kami akan menitipkan motor di rumah teman saya di sebelah selatan kompleks Amongrogo (biar ndak bayar parkir😉 ). Namun sebelum sampai dirumah teman kami, motor saya harus kehabisan bensin, tepatnya di perempatan Amongrogo, sehingga ndorong motornya ndak jauh ke rumah temen saya. Sampai di rumah temen saya, saya bingung harus ngisi bensin dimana, sudah jam 19.20, bisa telat kami. Untungya teman kami menawarkan membelikan bensin di SPBU terdekat, wah..sempat ndak enak juga. Tapi ndak papa lah, daripada telat, ndak kebagian tempat.

Kami langsung berjalan ke stadion, di perempatan Amongrogo saya baca spanduk lucu, “GIGI lukai hati kami”. Saya pikir itu dari Brajamusti, karena mereka memang tidak merelakan MandalaKrida untuk konser GIGI. Tapi saya ndak taulah, itu urusan yayasan MandalaKrida dengan GIGI Menejemen. Sampai di stadion jam 19.30, di luar stadion sudah beratus-ratus manusia. Pintu masuk juga sudah penuh sesak ( konser ini hanya menggunakan 1 pintu masuk), terpaksa kami harus berdesak-desakan. Diwarnai penyitaan Aqua oleh panitia, ahh…nonton konser ndak boleh bawa minum, repot. Tapi akhirnya kami ikhlaskan Aqua kami, toh penonton yang lain juga mengikhlaskan milik mereka 😆 . Akhirnya kami berhasil masuk ke stadion. Wah..kami sudah sangat terlambat. Di depan panggung sudah dipenuhi manusia, padahal kami berencana untuk berada di garis depan . Akhirnya dengan terpaksa kami berdiri di samping area kameramen sebelah timur.

Panggung di desain huruf T, menghadap ke selatan. Lampu-lampu dengan daya bermega2 watt sudah ditempelkan di panggung. Dilengkapi dengan big screen di background dan di kanan kiri panggung, sound sistem yang mantab, hmmm… dahsyat juga panggungnya. Janji GIGI bener2 ditepati😉 .

Mulai

Konser yang rencananya dimulai jam 20.00 ternyata harus molor setengah jam. Penonton sudah teriak tidak sabar karena nampaknya sudah berdiri sejak jam 19.00. Akhirnya, jam 20.30 konser dimulai. Diawali dengan instrumen dan video lagu Indonesia Raya yang diikuti seluruh penonton. Terasa sekali malam itu saya lagi berada di Indonesia ( emang biasanya dimana? ) .

gigi awal

Budjana memulai konser dengan intro lagu “Oo..oo..oo”, tapi langsung di medley dengan lagu “Dimanakah Kau Berada” dan “Angan”. Saya benar-benar ndak mengira kalau GIGI akan me medley lagu2nya. Jadi kurang nikmat mendengarnya karena kepotong-potong. Tapi akhirnya itu terobati, karena nyaris tanpa jeda GIGI membawakan lagu2nya.

Akustik

akustik

Ini juga tidak saya duga sebelumnya. Namun setelah asyik bermedley ria dan tidak beristirahat, GIGI mau memberikan kejutan untuk para penonton. Dengan menawan GIGI membawakan lagu2 mereka versi akustikan. Yang paling berkesan bagi saya adalah lagu “Nirwana”. Lagu ini mengingatkan saya akan masa2 sma dulu 🙂 . Ditutup dengan lagu “Kuingin”, akustikan live GIGI ini menjadi kenangan tersendiri buat saya😉 .

Terimakasih GIGI untuk JOGJA

Ini juga menjadi bagian yang berkesan. Di tengah konser, Armand mengingat sejarah GIGI 14 tahun yang lalu. Waktu itu GIGI diundang konser ke Jogja di sportHall Kridosono. Dengan bermodalkan nekat mereka naik kereta dari Jakarta ke Jogja. Dan ternyata sambutan warga Jogja waktu itu sangat menggembirakan GIGI. Penonton sangat antusias mengikuti konser ini, apalagi waktu lagu “Kuingin” dibawakan, penonton ikut bernyanyi bersama Armand. Alasan inilah kenapa lagu “Kuingin” akhirnya dibuatkan video klip. Oleh karena Jogja telah memberi sambutan hangat dan meriah pada waktu itu, maka GIGI memilih JOGJA sebagai kota pertama untuk konser peace, love, and respect ini, sebagai bentuk terimakasih dan apresiasi bagi para fans GIGI yang berada di JOGJA.

Lagu Rohani

Saya kira GIGI tidak akan membawakan lagu2 rohani. Tapi ternyata mereka bisa membawa emosi penonton lewat lagu2 ini. Dimulai dengan lagu “Malam Lailatul Qodar” dan dilanjutkan dengan lagu2 yang lain dengan cara sangat nge-rock. Penonton berjingkrak-jingkrak walaupun lagu-lagunya adalah lagu rohani. Namun GIGI bermain tempo dengan memainkan lagu “Akhirnya” sebagai pamungkas sesi ini.

Gusti Hendy

Saya sudah sangat sering melihat permainan solo Thomas maupun Budjana. Tapi untuk drummer baru ini, saya belum pernah melihat solonya. Nampaknya GIGI sengaja membuat solo drummer baru ini dengan spesial. Yaitu dengan dibuatkannya panggung tersendiri lepas dari panggung utama. Mungkin GIGI ingin menunjukkan existensi drummer barunya ini kepada masyarakat Jogja. Dan memang, menurut saya ini berhasil. Secara permainan mungkin Gusti Hendy berbeda dengan Budi Haryono, tapi malam itu Gusti Hendy benar2 menunjukkan sebagai seorang skillful drummer dengan permainannya yang explosif. Dia dengan memukau menampilkan permainan dobel pedal, simbal dan senar. Penontonpun jadi riuh dibuatnya, termasuk saya. Oke Hendy…kamu pantas menggantikan Budi😉 .

Akhir

Setelah permainan solo Hendy, disusul Thomas. Dengan ciri khasnya, musik funk, disco, sudah tidak mengherankan saya. Harusnya pas bagian ini dikasih DJ skalian, biar kayak di club.

dsc05966.jpg

Di bagian akhir ini kembali tempo diangkat oleh GIGI dengan lagu2 yang ngebeat. Namun, seperti yang saya duga sebelumnya, pada akhirnya dibawakan lagu slow, yaitu 11 Januari. Penonton-penonton terutama cewek teriak histeris melihat Armand membawakan lagu ini. Dan lagu ini pun menjadi lagu pamungkas konser ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s