Info Terbaru tentang Bus Patas (TransJogja)

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton Jogja TV. Disana pas ada dialog Fokus Bisnis. Kebetulan lagi, temanya adalah tentang bus patas (transJogja). Sebenarnya temanya panjang sih, yaitu ”Akankah TransJogja Mengurangi Keruwetan Transportasi Umum di Jogja”.

Dialog menghadirkan narasumber yang berkompeten, yaitu Bapak Johny Pramantya (Ketua ORGANDA DIY), Bapak Ir Mulyadi Hadikusuma (Kepala Dinas Perhubungan DIY), dan Bapak Heru Supriyanta S.T, M.M (Lembaga Ombudsman Swasta DIY).

Sebenarnya saya pengen telephone buat nanya-nanya sama narasumber, tapi nampaknya pertanyaan saya sudah ditanyakan pemirsa yang lain😉 .
Dari dialog tersebut akhirnya saya mendapatkan informasi (trayek, tiket, halte, dan lainnya) sebagai berikut.

Alasan dipilihnya bus patas

Bus Patas merupakan pilihan paling ringan dari segi biaya maupun resiko yang mungkin terjadi jika dibandingkan dengan trem, subway, maupun kereta cepat yang lain.

Program ini juga sekaligus program peremajaan bus kota yang sudah tua.

Tentang operasional bus patas

Harus ada tranparansi tentang nomer-nomer bus kota yang diganti bus patas. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi “permainan” .

Operasional harus efisien jika tidak ingin merugi.

Setelah dilakukan pengujian, ternyata kemungkinan keterlambatan bus patas mencapai 2 hingga 12 menit. Tergantung kepadatan lalulintas.

Bus patas akan beroperasi pukul 05.30 hingga pukul 22.00.

Tentang awak bus patas

Perlunya mengubah maindset (pola pikir) para awak bus. Karena para awak bus transjogja adalah mantan awak bus kota maka maindset kejar setoran dengan mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya dan kebut-kebutan harus dihilangkan. Hal ini menjadi tugas JTT (Jogja Tugu Trans) sebagai operator untuk melakukan sosialisasi kepada para awaknya.

Tentang armada bus patas

Bus patas sudah bermesin standar euro 2 sehingga diharapkan sangat ramah lingkungan.

Tentang halte bus patas

Memang halte sekarang kurang accessible bagi para difabel karena terlalu tinggi dan lerengnya terlalu curam. Namun demikian, pemerintah berjanji akan melakukan perbaikan secara bertahap.

Halte tersebar pada 76 titik, sebagian besar terletak di kota Jogja dan sebagian kecil terletak di kabupaten Sleman dan Bantul.

Akhir-akhir ini banyak terjadi vandalisme pada halte bus patas bahkan hingga tindak pencurian. Pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk ikut menjaga keberadaan halte ini.

Tentang feeder/pengumpan

Belum dilakukan koordinasi yang baik antara perusahaan angkutan di kabupaten dengan JTT, sehingga dikhawatirkan terjadi miskomunikasi tentang feeder.

ORGANDA DIY dan Pemerintah DIY akan segera merapatkan hal ini dengan para pengusaha angkutan di kabupaten.

Tentang trayek bus patas

Bus patas akan ada 6 trayek yaitu, IA (Prambanan-JEC), IB (Lupa saya catat 😦 ), IIA (Jombor-Condongcatur), IIB (Jombor-Pingit), IIIA (Giwangan-Pojok Beteng Kulon), IIIB (Giwangan-Kotagede). Tidak dijelaskan tentang jalan-jalan apa saja yang dilalui.

Tentang tiket bus patas

Tiket ada 3 jenis, single trip (sekali jalan), return trip (bolak-balik), dan langganan.

Harga tiket untuk sekali jalan (ralat untuk tulisan saya sebelumnya) adalah Rp 2.000,00 untuk pelajar/mahasiswa dan Rp 3.000,00 untuk umum.

Tiket untuk sementara hanya bisa dibeli di halte

Untuk kedepan, pemerintah akan bekerjasama dengan pihak ke 3 untuk penjualan tiket ini.

Kendala dan masalah yang dihadapi

Kurangnya sosialisasi ke tingkat grassroot tentang program ini.

Kurangnya koordinasi antara pemkot dan pemkab-pemkab terutama tentang feeder.

Vandalisme dan pencurian yang terjadi pada halte.

Bagaimana??? Sudah mendapat info tambahan kan?? 😉

5 responses to “Info Terbaru tentang Bus Patas (TransJogja)

  1. jalur bus yang ada apa ga mempengaruhi kapasitas jalan??? jaln-jlan di kota ini khan ga dirancang buat jalur khusus bus.

    >>>ya mempengaruhi, makanya pak danang ragu2 karena ndak ada prioritas buat bus ini. arah pertanyaan mas ini mau ke kemacetan kan? ya itu salah 1 kemungkinan. dan dishub juga sudah memperhitungkan keterlambatan yang mungkin terjadi, perubahan headway time, dll.

  2. Trims atas informasinya. Terus terang saya cuma bermimpi tentang bis patas ini. Saya memimpikan spt negara yg pernah saya kunjungi.
    Bagaimana orang bisa dengan nyaman memakai kendaraan umum dan dihargai karena supirnya toh nggak ngejar setoran.
    Mungkin harga yg harus dibayar memang mahal, belum lagi harus jalan kaki ke halte terdekat (dan sebaliknya nggak bisa berhenti ditempat terdekat spt kalo naik bis kota).
    Bagaimanapun kita harus bisa belajar disiplin, suka atau tidak suka. Mudah2an impian akan kendaraan umum yg nyaman bisa terwujud (walaupun realitanya ya tetaplah sama – ini Indonesia Bung!)

    >>>iya Bung, ini Indonesia😆 . tapi ndak ada salahnya mencoba to mas. mungkin kalo bsok ekonomi indonesia sudah baek bisa nyontoh sistem transport di negara2 maju🙂 .
    wah, mas bsw ini sudah banyak berkunjung ke banyak negara ya? mungkin bisa share disini mas tentang sistem transport di negara2 maju😉 .

  3. tak tunggu kedatanganmu TJ. jangan pernah menyerah u/ mnjadi lbh baik. smoga ke depannya jogja bisa punya subway ato krl yg kell DIY.dan usahakan diperbanyak lagi jmlah haltenya, biar ndak kejauhan jalannya.trims atas infonya

    >>>TJ udah tutup to mas? Eh, itu TJ’s ding😆 . iya mas..mari kita dukung sama2😉

  4. Salam,
    saya didik, kebetulan bekerja di Budapest, Hungary.

    Mau kasih tambahan informasi saja tentang transportasi di eropa.
    Saya kebetulan pantau terus perkembangan transjogja, karena saya anggap itu positif. Saya juga sempat tuhpenasaran soal jalur sepeda. Bangga punya jalur itu karena kedepan emang penting. Disini jalur sepeda punya payung hukum, dan banyak penggunanya. Tapi sepertinya jalur sepeda di jogja terakhir saya pulang malah jadi tempat parkir spd mtr, mobil dan taksi.

    Soal busway, saya sangat setuju. Walaupun banyak yang bilang kurang efektif karena gak punya jalur sendiri.– Di Budapest jalur busway memang punya jalur sendiri, tapi tidak di pasang pembatas. Karena pengendara mobil disini sadar kalau lajur bus ya untuk bus. Lajur busway disini juga bercampur dengan lajur pribadi, tapi toh juga masih nyaman karena gak kebut-kebutan. —. Jadi jalur yang harus bercampur tidak maslah. yang penting tuh tertib.

    Sebenarnya satu yang bisa diperbaiki dari mode transportasi di jogja yang sudah ada. Busway sangat bagus sekali cuma satu, halte terlalu jauh satu dengan yang lain. sehingga orang agak enggan pakai busway. Karena saya juga tahu, kalau orang indonesia agak enggan berjalan jauh. Terus halter juga malah terlalu menghabiskan dana. Halter disini malah cenderung jauh lebih simlpe tapi jauh lebih efektif.

    Menurut saya bikin perda baru kalau bus kota dan transporrtasi lain tidak boleh menurunkan penumpang di sembarang tempat. Pemda harus buat pemberhentian bus– disini pemberhentian bus tidak harus halte yang beratap. sebagian malah cuma tiang bertanda busway dan jadwal.— Nah di jogja yang pedestriannya sempit ini bagus. Jadi sesudah bikin perda baru, buat tiang yang bertuliskan halte bus kota. Dilengkapi nomer jalur yang boleh berhenti, serta trayeknya. Karena buskota belum berjadwal gak usah di kasih jadwal dulu yang penting informasi trayek dan jalur jelas. Kedepannya untul jadwal harus dibentuk. Nah dari perda harus tertulis kalau semua angkutan kota harus menaikan dan menurunkan penumang pada tptnya. Kalau tidak kena sanksi tinggi. 1 halte maksimal untuk 2-3 jalus bus kota.

    Selain itu, pintu bus harus ditutup karena menyangkut keamanan. Nah kalau begini transportasi tidak semrawut. sebenarnya yang bikin macet jalan di jogja salah satunya karena bus berhenti di sembarang tempat dan suka menunggu terlalu lama.

    Saya rasa solusi itu akan sangat bagus, untuk jangka pendek, dan tidak menghabiskan banyak dana. CUma harus mengadakan temu wijara dengan pemilik angkutan kota di jogja. Pemda harus tegas, karena ini menyangkut citra negara. Mentalitas negara bisa dilihat dari moda transportasinya. Dan harus disiplin.

    Tengong transportasi di singapur dan malaysia. Jalur bus mereka biasa dan gak semuluk transjakarta dan transjogja. Satu yang penting dari mereka adalah bus berhenti pada tempatnya, Jalur bus, trayek dan jadwal di pasang di setiap halte. Halter tidak terlalu jauh satu dengan yang lain. Bus beroperasi sampai malam. Trayek juga mencakup seluruh kota.

    Nah sebenarya di jogja mau kemana juga ada angkotkan?… cuma yang disiplin seperti transjogja yang berhenti di halte saja tidak ada. Makanya kalau sistem yang saya sebutkan diatas diterapkan pasti trasnportasi lebih tertip dan teratur. Dan tak usah keluar dana banyak.

  5. Ping-balik: Saran untuk Angkutan Umum di Jogja « watonmuni·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s