Pendapat tentang Bus Patas ( TransJogja )

Sebenarnya sudah sejak lama saya tertarik untuk menulis tentang program Bus TransJogja, Bus patas atau apalah namanya. Akhirnya sekarang saya menuliskannya disini. Saya tidak akan membicarakan tentang perdebatan di kalangan pemerintah daerah, karena saya tidak tertarik dengan itu. Saya lebih tertarik dengan bus patas itu secara teknis pelaksanaannya.

Sejak kuliah tentang perencanaan transportasi, manajemen lalulintas, dan mata kuliah transport yang lain, dosen-dosen saya banyak membicarakan tentang program ini. Tentu saja konsep yang dibicarakan oleh dosen-dosen saya itu sangat bagus dan menjanjikan. Sayapun jadi yakin (pada waktu itu) bahwa program ini dapat menyelesaikan permasalahan lalu-lintas di Jogja ( terutama yang berkaitan dengan angkutan umum).

Saya semakin tertarik membicarakan ini karena selalu mengikuti pemberitaan di Koran dan setiap hari melewati proyek halte bus patas ini. Setidaknya ada 4 buah halte yang saya lewati tiap hari saat jalan pergi dan pulang dari kampus ( jalur saya adalah ringroad utara dari arah stadion Maguwo hingga kampus teknik UGM). Di bagian selatan, halte dibangun didepan kampus UPN dan di daerah Manggung (sekitar makam Sawitsari). Halte di depan UPN nampaknya sudah selesai dibangun. Sedangkan halte didaerah Manggung juga hamper selesai. Di sebelah utara, halte dibangun didepan JIH dan disebelah timur perempatan Kentungan. Halte di samping perempatan Kentungan sudah hampir selesai, namun halte didepan JIH masih dilembur oleh para pekerja.

Kembali ke permasalahan awal, apakah program ini bisa menjadi solusi transportasi (angkutan umum) di Jogja?Mari kita bicarakan. Tujuan dari dibuatnya bus patas ini adalah agar angkutan umum di Jogja menjadi lebih baik (nyaman, tepat waktu, aman, dll). Jika kondisi-kondisi itu tercapai, diharapkan para pengguna kendaraan pribadi akan berpindah ke bus patas ini. Mirip dengan busway di Jakarta lah, tapi yang ini tidak memakai jalur khusus. Nah…jika pengguna kendaraan pribadi mau berpindah ke bis ini bisa dikatakan program ini berhasil. Atau kalau dalam istilah tekniknya, load faktor dari bus ini memenuhi nilai minimum yang disyaratkan (saya ga akan ngomong lebih jauh tentang load faktor, hehe). Kalau pengguna kendaraan pribadi pada pindah, berarti jalanan ga macet lagi to???

Namun pertanyaan berikutnya…Apakah para pengguna kendaraan pribadi ini mau pindah ke bus??? Jujur saja, pengguna bus sekarang ini adalah orang-orang yang “meminjam istilah dosen saya” captive/ no choice ato ga da pilihan lain. Jarang sekali ada penumpang yang naik bus jika ada motor atau mobil nganggur di rumahnya ( ini kalau mau jujur loh ).Lah, kalo kenyataannya bgitu, berarti harus ada yang sangat sangat menarik yang ditawarkan oleh bus patas ini sehingga orang-orang mau naik bis ini dengan ikhlas dan senang hati, hehe.

Seperti pada alinea sebelumnya , bus patas ini menawarkan kenyamanan, ketepatan waktu, dan juga keamanan. Mari kita omongkan satu per satu.

Kenyamanan. Kita lihat kondisi bus kota sekarang. Jujur saja, bus kota saat ini tidak nyaman sekali. Kenapa??? Banyak alasannya. Menurut pengalaman saya naik bus kota ketika masih sekolah dulu, setiap saya naik bus kota pasti akan mencium bau yang membuat pusing. Terus, kalau cuaca lagi panas, didalam bus kota juga akan gerah sekali. Bikin pusing dan mual saja. Belum lagi kalau pas jam-jam sibuk (jam anak sekolah pada pulang). Wah, pasti penumpang dipaksa masuk melebihi kapasitas busnya, sampe ada yang bergelantungan di pintu. Bayangkan, kalau sudah penuh sesak, cuaca panas, bau lagi, apakah ini nyaman??? Nha…pertanyaan buat bus patas. Apakah mampu memenuhi hal2 tersebut? Gmana caranya dong klo bgtu? Gampang saja. Kasih AC lah di bus itu. Kalau ada AC kan baunya juga ga karasa banget. Trus kalau kapasitasnya udah penuh ya jangan dijejali penumpang. Gtu aja deh gampangnya.

Keamanan. Nha..ini seringkali terjadi kalau bus dalam kondisi berdesak-desakan. Tangan-tangan jahil mulai beraksi. Korbannya biasannya cewek. Yang diambil biasanya hp atau dompet. Kalau ini agak susah sih mencari solusinya. Tapi paling tidak bagaimana menguranginya. Ya itu tadi, bus diisi sesuai kapasitasnya saja. Jika kondisinya begitu penjahat juga akan berpikir dua kali untuk beraksi, apalagi banyak yang akan menyaksikan. Oia, keamanan juga tidak hanya dari penjahat loh. Bus yang kebut-kebutan juga membahayakan penumpang. Sopir-sopir itu bilang kejar setoran. Tapi kalau sampai membahayakan penumpang kan juga tidak bisa dibenarkan. Untuk masalah ini, nampaknya bus patas sudah punya solusi sendiri. Yaitu dengan sistem buy the sevice. Apa itu? Prinsipnya adalah, bus akan mendapat penghasilan dari jarak yang ditempuhya tidak peduli dia mengangkut penumpang atau tidak. Kalau gini kan sopir bisa tenang, tidak usah mikir setoran yang harus di berikan pada perusahaan.

Ketepatan waktu. Sebenarnya ini sudah bisa dilakukan bus kota sekarang (dengan kebut-kebutan, hehe). Gmana sebaiknya dengan sistem bus patas ya? Apa harus kebut-kebutan juga? Begini sajalah. Bagaimana kalau kita gunakan teknologi saja. Setiap bus patas dikasih gps. Nha, gps ini disambungkan ke halte. Di layar monitor di dalam halte ditampilkan. Bis patas nomer ini sudah sampai dimana, dan butuh berapa menit lagi untuk sampai di halte. Bus patas ini tentunya juga harus ada suatu server yang menjadi pembimbing sopir. Server ini bisa memberitahu, dimana jalanan yang macet, berapa kecepatan yang harus dipakai agar tepat waktu sampai tujuan, dll ( Kalau yang ini saya mungkin mimpi ya?? Ahh, tidak apa-apa lah, masih untung bisa bermimpi ).

Itu ajalah pendapat watonmuni saya tentang bus patas. Marilah kita dukung program ini dengan sebaik-baiknya ( karena sudah dimulai, heheheh ). Semoga angkutan umum di Jogja akan semakin baik. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s